Sepucuk Surat untuk Mas Trisno

Dear mas Soetrisno,

Apa kabar mas? adinda harap baik-baik saja sampai waktu untuk berjumpa kembali

mungkin saja, ketika membaca surat ini, mas sudah menikah dengan perempuan pilihan mas atau bahkan sudah punya anak dua. Maafkan saya mas, yang terlalu takut untuk bertatap muka, bahkan untuk bertegur sapa lewat BBM atau WA. Karena aku terlalu malu dengan semua keegoisanku hingga kau memilih pergi dengan nya. ini bukan tentang salahmu, ini salahku yang tidak bisa mempertahankanmu. Aku yang dulu begitu mengingikan untuk bersanding dipelaminan denganmu. tapi kau tengah bersamanya, bahagia. Ya semoga saja.

mas trisno,

sebuah nama yang selalu kuselipkan disepertiga malamku, tak belabuh dipelaminan jua. ketika kau membaca surat ini sedang berstatus kawin berarti kita tidak berjodoh.

selamat berbahagia jawa,

sampai saat ini aku pun belum bisa melupakan wajah wajahmu, terlalu takut untuk bertegur sapa denganmu lagi. Takut jika wanitamu tersakiti seperti aku. dan sebetulnya aku masih menyimpan sisa rasa dihati.

terimakasih sudah berbagi kisah denganku. sekarang cukup aku yang memahami dan melupakan kenangan ini.

sekali lagi selamat mas jawa :). semoga entah kapanpun waktunya itu saat kau menemukan blogku ini kuharap kamu bisa memberi kabar tentangmu. entah dimanapun kau berada saat ini.

 

@metha.anggun22@gmail.com

Advertisements

Lagi….

    Terkadang kita memang harus bersabar untuk sesuatu yang terbaik. Ketika penantianmu tak kunjung menepi kepersinggahan, itu saat terbaik untuk memperbaiki diri. Bisa jadi, ada hal yang kamu lupakan diatas semua kesenangan penantianmu. Aku masih terus berjalan menyusuri dinding dingin itu. Wahai pemilik hati, izinkan aku  mencintainya karenaMU. Karena cabang dari semua cinta adalah bermuara pada cinta Illahi. Aku hanya tak ingin terdengar egois ketika harus mempertahankan dia yang tidak mau bertahan denganku. karena ketika aku menungggunya, bisa jadi ada makhluk Allah yang tersakiti. siapapun yang Allah kirimkan kepadaku, insyaallah diaah yang terbaik untukku, yang mau membimbingku kejalan menuju surgaMU.

 

#NOTE_MAB

Perempuan Dandelion itu

dandelion

Perempuan itu masih saja bersungut pada dinding berlumut. Mencorat coret gravity lama. Sebuah kata “I Love u mas SENO”. Dia menyilang nyilang kata yang mati. Tak bisakah dia diam? Aku muak melihat tingkahnya seperti itu sejak kemarin. Ia terlalu lama duduk dibata merah, memerahkan lutut dan betis kelam. Tangan gagah perkasa bak raksasa gajah mada. Dari matanya saja aku melihat, dia sedang mencari sosok yang dirindukan. Tapi kenapa tak pernah ia datang bersama lelaki itu lagi?  Kemanakah ia pergi?

Dia begitu manis sebenarnya, tapi rapuh. Rapuh berharap pada akar yang salah. Dan melumpuhkan jatuh bangunnya. Kemana lelaki yang biasanya pergi bersamanya? Bukankah dia seniman pasir itu? Botak plontos dengan janggut segitiganya? Ah iya. Bisa saja dia bersama wanita idaman lainnya.

Dia memandang benih dandelion rapuh yang beterbangan, arah kebarat ia mengikuti jalan. Akupun diam diam mengikutinya. Kau ambil putik utuh dandelion rapuh. Seketika langsung jatuh tinggal tangkai.

“Seperti itukah engkau aslinya?”

Perempuan itu kaget mendengar suara dari arah belakang

“Tak bisakah kau pergi bersama kenangan kenangan ini, agar aku memulai kembali nyamanku”. Aku mempersilahkan dia pergi bersamanya, aku kasih alan untuk mereka. Aku buat jembatan agar mereka bertemu. Tapi tolong setelahnya biarkan aku menghilang dari kehidupannya. Jangan mencari-cari aku lagi. Itu membuatku tenang. Selama ini aku yang salah memilah cinta. Biarkan aku terbang lagi, sama seperti aku belum mengenalnya dulu.

“Tapi, aku siapa?”

“Kamu adalah aku”

Dan dia pun pergi dengan setangkai dandelion kuning.

 

Senja Menunggumu, Surya

Aku terus melihatmu berdiri diantara langit-langit senja. Kau duduk saja membawa pena tinta dan buku biru. Seperti menulis kisah lama kita. Sesekali kau menoleh ketimur laut memastikan perahu tiba. Tak kunjung tiba. Dan ini sudah hari ke 137. Tapi kau tetap saja menunggu. Pakaian terusan berbunga lavender ungu. Rambut gelombang tergerai bebas sebatas siku. Ingin saja rasanya kusapa dirimu. Namun aku jauh. Jauh dari pulau rontana, seberang pulaumu.

Pernah hari itu kau tak datang disenjamu. aku berkeliling mencari bekas jejakmu. yang biasa kau kibas-kibaskan ditepi pohon ranu. Kau tak datang. Tetap saja aku mengintip dari rumah rotanku kali kau datang dengan senyum sepimu.

“Rana!” suara sayup dari balik masjid Agung pas meghadap rumah abang umar

“Iya bik?”

“Kemari cepat, ada yang datang mencarimu!”

“Siapa?, rana penasaran

“Entahlah!”, bibik menyeringai

Rana. Nama yang bagus. Ini hariku berkenalan dengannya.

“Kemana ia pergi?, gelisahku

kuiikuti langkah lalu bersama angin. Kepalaku sibuk dengan arah yang berliku jalannya rana. Ia kembali kerumah? Tak biasanya dia pulang secepat itu, Pikirku. Kulihat jam dinding di sebelah lemari kayu. Masih jam 17.15.

Hari ke 140, Rana tak datang semenjak ia pergi berlalu sore itu. Kemana? Ia menghilang kemana? kakiku sibuk berjejak ditanah rontana. Perempuan itu biasanya duduk ditepi dermaga jam 4. Penantianmu selalu tercermin diwajahmu. Penantian yang terbalas? aku bisa saja menghiburmu. Tapi aku takut menghancurkan setiamu entah dengan siapa itu. Dan setelah ia menghilang, aku berkabung. Sesegesa itukah kau pergi? aku berusaha mencari tahu kemana ia pergi. Kudayung rakit yang diam diam selama ini sudah kubuat untuk menemuimu. tapi setelahnya selesai, kau menghilang. dan rakit ini menjadi alasan untuk mencarimu ke pulau Noi. Tidak jauh memang, hanya  8 km jarang pulau kita. Ini pecundangku yang tak mampu mengisyaratkan kepadanya.

Sesampainya disana, aku mencari rumahnya. Rumah tembok bata putih rapi tertutup jerami. Kemana? mungkinkah dia pindah? ini rumah yang biasa ia tempati bersama bibiknya itu.

“Cari siapa?”, sapa lelaki berjenggot ranum, pengurus masjid

“saya mencari, perempuan yang biasa termenung dipantai, kemanakah dia pergi?”

“Kirana?, minggu lalu dia sudah menikah dengan lelaki purwokerto. Dan pindah kejawa.

“Bukankah dia menunggu lelaki yang datang dari timur laut bersama perahunya?”

“Iya, tapi kecewanya sampai pada ketika dia yakin lelaki yang datang saat kerumahnya adalah dia yang memang mencarinya”

“Kenapa?”

“Lelaki yang ditunggunya disetiap senja, tak akan pernah kembali”

“Jadi, rumahnya sudah kosong sekarang? Boleh saya melihat-lihat sekitar, bang?”

“Silahkan, maaf kalau boleh tahu anda siapa?

“Wiji Surya, bang”

“Hoo..”, langkah kaki bang umar pun menyepi, sesekali menatap langit pagi.

Dan senja itu, aku yang kembali menunggunya. aku duduk terbiasa dipohon ranu ditempat yang sama sepertimu dulu. Dan tentang penantian selama ini, aku tak pernah tahu itu untukku. Aku merasa kehilangan setelahnya terjadi tanpa sebuah permisi. Aku menghantarkan penyesalan bersama kenangan indahmu.

“Maaf membuatmu menunggu, rana”,

Kopi Hitam

Maafkan aku, nyatanya aku hanya menjamumu ketika malam datang dengan secangkir kopi hitam. Ya. secangkir kopi hitam yang kau nikmati saat kau merasa kau sedang lelah. Bau khas kopi hitam yang selalu menyebar ketika kita berjumpa. Kebiasaanmu masih kuingat. Menghembus hembus dan menyeruput hitam dengan suaramu yang khas. Ahh. maafkan aku sekali lagi. Malam ini aku mencoba menirumu, membayangkan bagaimana kita bisa berpisah.

Apa kabar kamu mas? saat kau baca tulisan ini mungkin kau tengah bersama dengan wanita yang ingin kau bahagiakan. Dulu, aku juga pernah memimpikan masa depan bersamamu. Aku juga pernah menjadi daftar kebahagianmu. Tapi itu dulu. Sekarang aku tak punya hak untuk menanyakan kembali bagaimana dengan tawaran masa depan. kau yang memilih pergi saat aku begitu yakin bahwa kau masih mencintaiku.

Untuk waktu-waktu yang berlalu,

mungkin aku egois untuk memaksamu kembali sekali lagi. memaksa rindu yang tertumpuk dibelanga yang kini pun kau anggap aku bukan siapa-siapa lagi. Karena aku pernah menunggu, tak bisakah kau balas menungguku dengan kehadiranmu? atau disini hanya aku saja yang terlalu berharap dengan angan angan hidup bersamamu?

Sekali lagi, kuseruput kopi hitam itu

Pahit, setelahnya menenangkan dan membuatku bertahan pada malam.